Oleh : I Gede Wira Paramartha, S.Ag
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang.
Dinamika kehidupan masyarakat Bali
sangatlah beraneka ragam. Mualai kehidupan social, kehidupan beragama dan
kehidupan individunya masing – masing. Dalam berkesenian masyarakat Bali
sangatlah beranekaragam keberadaannya. Mulai dari seni suara seperti gambelan,
seni lukis seperti halnya lukisan yang bersifat sacral seperti ulap – ulap yang
sering kita jumpai pada bangunan – bangunan suci sedangkan seni lukisan yang
bersifat yang bersifat sebagai hiburan – hiburan seperti lukisan – lukisan yang
banyak kita jumpai pada artshop – artshop. Seni arsitektur bali merupakan
kesenian yang juga bisa dibilang memiliki nilai sacral yang sangat tinggi.
Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali seni arsitektur ini sangat erat
kaitannya dengan asta kosala – kosali yang sering menjadi pedoman kita dalam
membuat suatu bangunan atau ketika keti akan melakukan pembanguan di pekarangan
kita. Meskipun itu sebuah kepercayaan dalam agama Hindu dalam keberadaanya hal
tersebut kita jumpai juga sebagai sebuah seni.
Seni berasal dari bahasa latin yaitu
art
/ ars yang berarti kemahiran. Secara etimologis seni ( art ) diformulasikan sebagai sebagai suatu
kemahiran dalam membuat suatu barang atau mengerjakan sesuatun ( Herimanto dan
Winarno, 2008:159 ). Seni yang dimaksudkan disini adalah seni yang berasal dari
hasil karya manusia yang memiliki kemahiran dibidagnya. Kata seni sangat
berkaitan dengan perasaan kita. Ketika sesuatu dikatakan sebagai sesuatu yang
seni sudah tentu sesuatu itu akan memiliki suatu yang dapat menggugah emosi
kejiwaan dan perasaan kita. Seperti halnya ketika kita melihat lukisan yang
memiliki nilai keindahan yang dapat menggugah perasaan kagum kita. Begitu juga
halnya dengan alunan lagu – lagu atau musik yang dapat menghanyutkan perasaan
kita, yang dapat memberikan ketenangan bagi kita. Meskipun terkadang penilain
terhadap seni tidak dapat mutlak atau dikatakan relative bagi si penikmat seni
itu sendiri.
Kehidupan masyarakat Hindu di Bali
sangatlah unik dan menarik untuk kita telaah lebih mendalam. Di Bali antara
agama, adat dan kebudayaan dapat hidup dan berjalan beriringan tanpa
menghegomoni antara yang satu dengan yang lainnya. Agama sebagai system
kepercayaan masyarakat yang ada. Kebudayaa sebagai bentuk nyata dari
implementasi keyakinan yang dimiliki oleh masyarakat Hindu di Bali yang
bersumber pada pencitraan budi atau pikiran dan daya atau kemampuan yang
dimiliki oleh manusia yang tergabung dalam kesatuan hasil kreasi. Sedangka adat
merupakan kebiasaan atau tradisi yang membungkus agama atau kepercayaa yang
dimiliki oleh masyarakat. Ketiga hal ini sangatlah mempengaruhi kehidupan
masyarakat bali termasuk dalam mereka berkesenian sekalipun.
Salah satu seni yang ada di Bali
yang sangat diminati oleh masyarakat luas dan juga sekaligus memiliki nilai –
nilai keagamaan yang ada salah satunya adalah Seni Patung. Seni yang satu ini
sangatlah banyak kita jumpai dimana pun termasuk di tempat – tempat suci
sekalipun. Seni patung ini berkembang pesat sekali hamper disetiap tempat yang
ada di Bali terlebih lagi di daerah Gianyar dan juga sekitarnya. Seni Patung
sendiri merupakan bagian dari Seni Rupa yang membedakan adalah jika seni rupa
pada umumnya seperti lukisan lebih cendrung pada dua dimensi sedangkan seni
patung sudah memiliki bentuk secara tiga dimensi atau bentunya nyata dapat
dilihat, dapat diraba dan bentuknya nyata.
Dalam perkembanganya seni patung ini
telah berevolosi sesuai dengan kemajuan dari pola pikir si penciptanya dan juga
peminat dari seni patung ini sendiri. Dalam berkesenian masyarakat tidaklah
membedakan satus social, umur dan bahkan jenis kelamin sekalipun. Dewasa ini di
lingkungan Badung dan sekitarnya keberadaan seni patung ini telah mengalami
perubahan yang sangat pesat. Jika dahulu para undagi / pematung / tukang ukir
berkesenian atau menuangkan ide mereka dengan media batu atau kayu, kini
seiring dengan perkembangan jaman seni patung pun telah mengalami evolusi. Baru
– baru ini tepatnya pada bulan – bulan menjelang Nyepi para seniman yang ada di
bali menuangkan ide mereka melalui ogoh – ogih yang dibuat dari serofom.
I. Aspek Bentuk Kesenian.
1.1 Pengertian Seni Patung / Ogoh - ogoh.
Seni adalah aktivitas manusia untuk mengungkapkan pengalaman estetis ke
dalam wujud lahiriah dengan tata susunan unsur yang indah, sehingga dapat
menimbulkan pengalaman baru bagi orang lain. Pengalaman estetik tersebut dapat
disalurkan ke dalam berbagai media yang salah satunya adalah media seni rupa.
Seni rupa adalah jenis seni yang menggunakan media atau unsur rupa (visual)
atau unsur-unsur yang dapat diindera oleh mata. Ciri lain seni rupa adalah
dapat diraba, misalnya karya seni patung. Seni rupa dikatakan berorientasi pada
produk, karena itu karya seni rupa dapat dinikmati dalam jangka waktu yang lama
atau berulang-ulang.
Seni patung merupakan cabang dari
seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Penciptaan seni patung ini
biasanya melalui memahat media yang sudah ada seperti batu, kayu dan media
lainnya, atau juga dengan menggunakan casting ( menggunakan cetakan ) (diakses di
Wordpress.com).
Seni
rupa dapat dibedakan dalam berbagai klasifikasi. Berdasarkan demensinya, seni
rupa dibagi menjadi karya seni rupa dua demensi (dwi matra) dan karya
seni rupa tiga demensi (tri matra). Berdasarkan fungsinya dibedakan atas
seni rupa murni (fine art) dan seni rupa terapan (applied art).
Berdasarkan corak atau alirannya, dibedakan atas seni rupa tradisional dan seni
rupa modern, atau seni rupa representatif dan seni rupa non-representatif (http://sastra.um.ac.id/wp-content
)
Di Indonesia terdapat berbagai jenis
patung dan tersebar di berbagai daerah termasuk di Bali. Keberadaan patung yang
ada diwilayah Indonesia pada umumnya sangat dipengaruhi oeh perkembangan dan
juga keberadaan agama Hindu termasuk di Bali. Beraneka ragam jenis dan bentuk
patung dapat kita temui di Bali, mualai dari patung peninggalan jama kuno
sampai dengan patung yang telah bersifat modern. Dari sebuah peningglan seni patung yang hingg akini masih digeluti
oleh masyarakat mampu menjadinsumber mata pencaharian penduduk. Dalam berkesenian patung para pengerajin
dapat dikatakan sudah memiliki daya imajinasi yang tinggi serta mampu
mewujudkan hasil karya mereka kedalam sebuah hasil karya yang bersifat 3 ( tiga
) dimensi.
Keberadaan seni patung di bali sudah
ada sejak bertahun – tahun yang lalu bahkan sebelum masuknya agama Hindu ke
Indonesia khususnya Bali. Hal ini dapat di buktikn dari peninggalan –
peninggalan jaman sejarah yang masih kita jumpai hingga sekarang. Peninggalan kebudayaan patung jaman sejarah merupakan hasil
kreasi seni pahat para nenek moyang, terdiri dari arca-arca batu berbentuk
manusia, binatang, menhir, dolmen, punden berundak, kubur batu, lumpang batu
dan sebagainya yang berukuran kecil sampai raksasa. Seni patung yang sudah ada
sejak dahulu ini masih kita warisi hingga sekarang dan tetap terjaga
kelestariannya di masyarakat modern dewasa ini. Seni patung yang digeluti oleh
masyarakat selain sebagai mata pencaharian penduduk juga sebagai penyaluran
hobi yang dimiliki oleh masyarakat Bali.
Ogoh-ogoh berasal dari kata bahasa
Bali “ogah-ogah” yang artinya bergoyang-goyang. Ogoh-ogoh adalah sebuah benda
besar yang dibuat menyerupai raksasa, binatang atau apapun yang menyeramkan.
Ogoh-ogoh awalnya dibuat sebagai simbol “bhuta kala” yaitu kekuatan negatif.
Kekuatan negatif ini akan di netralisir dalam upacara Tawur Agung.
Pada awalnya, ogoh-ogoh dibuat
dengan menggunakan bahan-bahan seperti kayu sebagai tulangnya, anyaman bambu
untuk membentuk dan kertas sebagai pembungkus. Ogoh-ogoh pada jaman dulu tidak
sebagus saat ini walaupun tidak mengurangi penampilan “seramnya”. Pembuatan
ogoh-ogoh dulu pun membutuhkan waktu yang relatif lebih lama daripada saat ini.

Gambar diatas merupakan kegiatan pembuatan ogoh – ogoh yang
dilakukan oleh undagi sebagai salah satu bentuk pencitraa imejenasi yang
dimiliki oleh seniman tersebut. Pembuatan ogoh – ogoh dewasa ini tidak lagi
sebatas pada pelengkap suatu upakara / ritual tetapi juga memiikinilai lain disalamnya.
Misalkan saja nilai keindahan / estetika yang memang benar – benar sangat
diperhatikan oleh masyarakat dewasa ini. Pembuatan ogoh – ogoh dewasa ini sudah
hamper menyamai pengerjaan patung yang sering kita lihat.
1.2 Aspek – aspek Seni.
Sebuah benda seni harus memiliki
wujud agar dapat dilihat dan diterima secara indrawi ( dilihat dan didengar,
atau didengar dn dilihat ) oleh orang lain. Bendan seni itu memiliki wujud
secara fisik. Tetapi, wujud fisik itu tidk secara serta merta mampe dikatakan sebagai
benda seni. Berseni atau tidaknya suatu wujud fisik ditentukan oleh nilai yang
ada di dalamnya. Nilai yang bisa diketemukan dalam sebuah karya seni ada dua
hal yakni nilai bentuk ( Inderawi ) dan nilai isi ( di balik yang inderawi )
(Jakob Sumadjo, 115 : 2000 )
Ogoh-ogoh
merupakan budaya baru di Bali. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual
Nyepi. “Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah
saja,” paparnya. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Bali
saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan. Seiring waktu banyak yang
mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agama, seni dan budaya. Setelah
dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk
tradisi,
Namun
demikian keberadaan ogoh – ogoh dalam agama Agama Hindu di Bali meruakan sebuah
bentuk pencitraan terhadap imajenasi yang dimiliki oleh masyarakat. Dalam
berkesenian khususnya seni patung dalam ogoh – ogoh nilai seni, nilai estetik,
seperti halnya nilai agama, etika, social dan lain – lain. Ogoh – ogoh sebagai
salah satu bentuk kesenian yang dimiliki oleh masyarakat juga hendaknya
memiliki beberapa aspek – aspek yang hendaknya diperhatikan oleh seniman yang
bersangkutan. Seni Patung mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi syarat-syarat sebagaiberikut:
1. Utility atau aspek kegunaan Security
yaitu
jaminan tentang keamanan orang menggunakan barang-barang itu. Dalam hal ini
adalah bagaimana ogoh – ogoh sebagai salah satu bentuk dari seni patung yang
ada di masyarakat mampu memeberikan rasa aman dan nyaman bagi para penggunanya.
2. Comfortable
yaitu
enaknya digunakan. Barang yang enak digunakan disebut barang terapan.Barang-barang
terapan adalah barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi. Aspek ini telah
mengalami pergeseran yang sangat pesat dalam masyarakat mberkesenian ogoh –
ogoh.
3. Flexibility
yaitu keluwesan penggunaan.
Barang-barang seni Patung adalah barang terap yaitu barang
yang wujudnya sesuai dengan
kegunaan atau terapannya. Barang
terap di persyaratkan
memberi kemudahan
dan keluwesan penggunaan agar
pemakai tidak mengalami kesulitan
dalam penggunaannya.
4. Estetika
Estetika
atau syarat keindahan merupakan sebuah
barang terapan betapapun enaknya dipakai jika tidak enak dipandang maka pemakai
barang itu tidak merasa puas. Keindahan dapat menambah rasa senang,
nyaman dan puas bagipemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan
menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu
diperindah dan berwujud estetik.

Gambar diatas merupakan sebuah
bentuk seni patung yng dipergunakan oleh masyarakat dalam menyambut hari raya
nyepi. Pada umumnya ogoh – ogoh memiliki bentuk menyerupai butha kala atau raksasa,
namun sewasa ini ogoh – ogoh juga ada yng menyerupai bentuk dewa. Ogoh – ogoh
yang ada di gambar diatas memiliki aspek – aspek yang telah diperhatikan oleh
seniman bersangkutan seperti halnya aspek estetika atau keindahan. Dalam karya
patung diatas aspek keindahan yang dimiliki sudahlah sangat menjolok dan kental
penggunaan ornament – ornament dan juga pewarnaan yang telah disesuaikan dengan
karakter ogoh – ogoh itu sendiri.
1.3 Instrumen
Dalam setiap kesenian yang ada
pastilah memiliki instrument. Instrument yang dimaksid disini adalah pengiring
dari kesenian itu, dalam hal ini keseian dari ogoh – ogoh ini yang dimana
menggabungkan antara seni patung sebagai seni utama yang ada kemudian seni
suara sebagai seni pengiring yang ikut meramaikan dalam pawai ogoh – ogoh. Jika
kita cermati antara seni patung ( ogoh – ogoh ) sebagai sebuah bentuk seni tiga
dimensi yang dapat dilihat secara bentuk nyata tidaklah akan lengkap apabila
tidak iiringi oleh seni suara yang lebih mengkhusus dinikmati oleh indera
pendengar. Namun demikian secara nyata di Bali dalam pelaksanaan upacara ngerupuk
serangkaian dengan Hari Raya Nyepi kedua unsure seni ini mampu disatukan dengan
baik dan juga menghasilakan sebbuah kesenian yang memiliki nilai estetika yang
tinggi. Dalam kegiatan berkesenian seni
patung (Ogoh – ogoh ini ) adapun yang menjadi instrument pengiring yang sering
kita jumpai adalab Baleganjur ataupun tetangguran yang merupakan musik
tradisional Bali yang terdiri dari seperangkat gambelan yang menghasilkan
suara.
Secara pengertian seni suara atau
seni musik adalah seni yang diterima melalui indera pendengaran. Rangkian bunyi
yang didengarkan dapat dapat memberikan rasa indah pada manusia dalam bentuk
kosep pemikiran yang bulat, dalam nada – nada atau bunyi lainnya yang
mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai bentuk dalam ruang waktu yang
dikenal oleh diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan hidupnya, sehingga
dapat dimengerti dan juga dinikmati ( Noryan Bahari, 2008 : 55 ). Demikian
pengertian dari seni suara secara umum yang juga dapat diaplikasikan dalam
bentuk gambelan baleganjur yang
menjadi pengiring dalam pawai ogoh – ogoh serangkaian menyambut tahun baru
Caka.

Gambar diatas merupakan penabuh Baleganjur yang sedang beraksi dalam
pawai ogoh – ogoh serangkaian upacara Nyepi. Baleganjur ini merupakan
instrument pengiring dari seni ogoh – ogoh yang dihasilkan oleh seniman –
seniman muda yang telah memulai mengembangkan
kresinya. Antara ogoh – ogoh dan seni baleganjur merupakan dua element
yang tidak dapat dipisahkan dan saling keterkaitan antara yang satu dengan yang
lainnya sehingga menghasilkan karya yang memiliki nilai seni yang tinggi.
II Aspek Penampilan
2.1 Media Seni.
Dalam kesehariannya kita sering sekali
mendengar bahwa seni itu ekspresi. Ekspresi seolah identik dengan seni. Segala
bentuk ekspresi yang mengandung unsure estetika didalamnya dapat dikatakan
sebagai sebuah bentuk kesenian. Dalam
produk seni apalagi seni tersebut merupakan seni yang bersifat tiga dimen
artinya seni yang dapat dinikmati secara kasat mata dan memiliki bentuk nyata
pasti akan memiliki suatu ekspresi sebagai bentuk dari kesenian itu sendiri.
Dalam berkesenian perasaan harus
dikuasai terlebih dahulu, harus dijadikan objek, dan harus diatur, dikelola dan
diwujudkan atau di ekspresikan dalam bentuk karya seni. Dalam kondisi semancam inilah
baru seniman dapat mengekpresikan perasaanya. Bentuk apresiasi dari perasaan
seorang seniman ini sangatlah erat kaitannya dengan media yang dipergunakan
dalam berkesenian. Mda dalam seni
merupakan sebuah alat / benda yang dipergunakan dalam berkesenian.
Material dan juga semua aspek medium
ini akan membatasi nilai yng ingin disampaikan oleh seniman. Berbagai nacam seni akhirnya dibatasi pertama kali
oleh ketergantunga seniman pada material atau bahan utama dalam berkesenian (
buni bagi seni musik, warna, bentuk, garis dan bidang dalam seni rupa ).
Material tadi diwujudkan dalam sebuah bentuk yang mengarah kepada apa yang
diyakini sebagai seni ( Jakob Sumardjo, 2008 : 36)
Dari pertama kali tercipatanya ogoh –
ogoh di kawasan desa Sibanggede telah banyak sekali mengalami perubahan –
perubahan yang juga telah mengikuti perkembangan dan kemajuan jaman. Mulai
pertama ogoh – ogoh yang dibuat di Sibanggede mempergunakan sumi ( daun ilalang yang telah kering )
yang hamper menyerupai orang – orangan sawah ( lelakut ). Setelah adanya perubahan dari pola pikir masyarakat
pembuatan ogoh – ogoh kemudian menjadi
sebuah hasil karya seni masyarakat yang juga sekaligus dipergunakan sarana
upacra dalam hari raya Nyepi. Ogoh –
ogoh yang ada kian diminati oleh masyarakat sebagai sebuah sarana hiburan dan
juga tempat untuk menuangkan kreatifitas yang dimiliki oleh masing – masing
individu mualai dari remaja hingga anak – anak terlibat dalam kegiatan ini. (
wawancara dengan tetua di lingkingan Br. Bantas Kelod ).
Penggunaan media bamboo sebagai bahan
utama dalam pembuatan ogoh – ogoh juga memberikan suatu rasa kebersamaan dalam
kalangan pemuda dikarenakan mualai dari pencarian bahan baku sampai dengan
pembuatan ogoh – ogoh ini semua komponen dapat terlinbat, da juga dapat saling
bertukaran ide atau kemampuan mereka. Selain itu pembuatan ogoh – ogoh yang
mempergunakan media bambu juga dapat menghemat financial ( keuangan )
dikarenaka mereka tidak perlu untuk mahal – mahal membeli serofom untuk membuat
ogoh – ogoh. Yang terpenting disini adalah karya seni yang dihasilkan dari
media ini mampu memberikan rasa puas terhadap si penikmati seni yang ada.

Gambar
diatas pengerjaan ogoh – ogoh yang masih
mempergunakan bahan media yang bersifat
tradisional seperti halnya bamu dan kayu. Namun demikian hal ini memiliki suatu
nilai berkesenia yang sangat tinggi yang masih dilestarikan oleh masyarakat di
lingkungan desa sibanggede hingga kini. Selain hal tersebut pembuatan ogoh –
ogoh dengan media bamboo dapat dikatakan ramah lingkungan karenanya tidak
menimbulkan bahya pencemaran lingkungan dan juga polusi udara seperti halnya
pembuatan ogoh – ogoh dengan mempergunakan serofom gabus.
2.2 Penampilan
menurut Nooryan Bahari keberadaan seni
rupa sangat ditentukan oleh tampilan unsure – unsure rupa ataupun visual yang
melingkupinya. Ada kalanya karya seni berfungsi sebagai sebuah inspirator jika
ia menjadi sumber inspirasi bagi seniman dalam proses kreatifitasnya.
Pendidikan seni rupa memiliki sifat yang multilingual, multidimensional dan
multikultur. Multi lingual adalah seni bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
meng ekspresikan diri dengan berbagai cara seperti bunyi, gerak dan
perpaduannya. Multi dimensional berarti seni mengembangkan kompetensi dasar
seseorang yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman dll. Sedangkan multi
cultural berarti seni yang lebih difokuskan pada pengembangan esadaran dan
kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya local dan global sebagai
bentuk sebuh penghargaan terhadp kebudayaan yang ada.
Dalam mewujudkan benda seninya seorang
seniman memang akan menampilkan cirri – cirri kepribadiannya yang mandiri dank
has, yakni seberapa besar bakatnya, seberapa jauh teknik penampilannya dan juga
bagaimana menampilkan bentuk – bentuk unsure seni yang ada. Dalam ogoh – ogoh yang termasuk kedalam seni
rupa tiga dimensi hal ini juga tidak dapat dilepaskan. Bagaimana penampilan
seni yang ada juga dapat mencerminkan kepribadian atau karakter dari si pembuat
ogoh – ogoh tersebut. Penampilan ogoh –
ogoh dewasa ini sangat dinominasi oleh banyak factor dan hal yang disesuaikan
dengan kondisi dan juga karakter dari ogoh – ogoh tersebut sebagai media seni
yang ada. Selain itu karakter dari seniman yang menciptakannya juga sangat
berpengaruh dalam penampilan ogoh – ogoh tersebut.
Sekitar tahun 2008 ketika lomba ogoh –
ogoh kota Denpasar yang pertama di gelar di perempatan desa Sanur, tepatnya di
depan Br. Taman Sanur. Lomba ogoh – ogoh ini telah banyak memberikan inspirasi
baru bagi para pencinta seni ogoh – ogoh. Salah satu ogoh yang menjadi
inspirasi pada saat itu adalah ogoh – ogoh dari Br. Aggar Kasih Sanur yang
bertemakan Kapandung Sita. Penampilan ogoh – ogoh ini sangatlah memukau
denagn menggabungkan antara konsep modern dan juga tradisi yang dikemas unik oleh
undagi dari Gria Anggarkasih Sanur. Gus Aji Ade panggilan akrab oleh masyarakat
Br. Anggar kasih Sanur ini telah memberikan sebuah perubahan baru dalam dunia
seni yang ada. Ogoh – ogoh bukan hanya lagi sebagai pelengkap upacara Tawu
Agung , namun telah memiliki nilai lebih dalam kehidupan masyarakat
modern. Ogoh – ogoh sebagai sebuah
produk seni masyarakat yang emmiliki penampilan yang beraneka ragam juga telah
menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Jadi dalam kekinian ogoh –
ogoh
Kaitannya dengan penampilan ogoh – ogoh
sebagai salah satu dari bentuk seni patung yang ada di masyarakat dan sangat
erat dengan kehidupan generasi muda adalah memiliki karakter tersendiri.
Penampilan dalam ogoh – ogoh disesuaikan
dengan karakter dari ogoh – ogoh tersebut. Hal itu dikarenakan tidak semua ogoh
– ogoh yang diciptakan oleh creator memiliki penampilan yang sama. ( hasil
wawancara dengan seorang Undagi Ogoh – Ogoh ).

Gambar diatas adalah sebuah ogoh – ogoh yang bentuknya
menyerupai celuluk yang dalam cerita
dikenal merupakan anak buah dari Ni Walunateng Dirah yang merupakan ratu dari leak yang memiliki sifat jahat. Dalam
penampilannya ogoh – ogoh celuluk,
ini memiliki penampilan yang sederhana dengan atribut seadanya namun tetap
memperlihatkan wajah yang menakutkan. Perwujudan bentuk celuluk ini sangatlah erat
kaitannya dengan cerita Calonarang yang mungkin telah memberikan suatu ide
kreatif bagi masyarakat untuk menciptakan bentuk ogoh – goh celuluk yang
memiliki penampilan yang unik dan lain dari pada yang lainnya.
Berbicara mengenai penampilan dari suatu ogoh – ogoh
yang sering kita temui menjelang hari raya Nyepi ini telah banyak mengalami
perubahan – perubahan yang muncul dari idea kreatif para seniman yang ada.
Penampilan ogoh – ogoh yang ada di masyaratkat dewasa ini dapat dikatakan telah
memiliki nilai estetika tersendiri hal tersebut dikarenakan ogoh – ogoh ini
merupakan sebuah produk dari seni yang berbudaya. Ahkan tidak tanggung –
tanggung ogoh – ogoh yang ada merupakan bagian dari pemujaan umat Hindu ketika
akan memasuki pergantian Tahun Caka. Ogoh – ogoh merupakan perlambang atau
symbol dari Bhuta Kala yang memiliki
sifat – sifat kurang baik yang dimana pada upacara pengrupukan ini sifat bhuta ini
di Somya atau dinetralisirkan kembali
agar menjadi lebih baik ( dari bhuta disomya
menjadi dewa ).

Gambar diatas adalah ogoh – ogoh yang mengambil cerita Sapuh Leger yang telah melegenda pada
masyarakat hindu di Bali. Ogoh – ogoh diatas memiliki penampilan yang
disesuaikan dengan karakter dari masing – masing tokohnya. Misalkan seperti
sang Kala yang merupakan putra sewa Siwa yang memiliki karakter dan penampilan
yang menyeramkan lakyaknya seperti raksasa. Selainitu ada juga tokoh anak kecil
yang bernama hyang kumara yang juga putra dari sdeawa Siwa yang memiliki
penampilan layaknya seperti anak kecil.
Demikian tingginya daya imajaenasi dan juga daya kreasi para creator
seni yang ditampilkan dalam setiap ogoh – ogoh yang ada. Semuanya telah
disesuaikan dengan karakter bawaan dari masing – masing tokoh yang adibuat.
III. Aspek Bobot / Pesan
3.1 Analisis Isi.
Seni adalah aktivitas manusia untuk mengungkapkan pengalaman estetis ke
dalam wujud lahiriah dengan tata susunan unsur yang indah, sehingga dapat
menimbulkan pengalaman baru bagi orang lain. Ogoh – ogoh merupakan
sebuah bentuk seni patung yang memiliki wujud nyata layaknya manusia namun
dibuat berdasarkan daya imajenasi seorang seniman yang membuat ogoh – ogoh
tersebut. Ogoh – ogoh sebagai sebuah bentuk hasil dari kesenian manusia melalui
beberapa tahapan – tahapan dan juga melalui daya kreatifitas yang tinggi.
Dapat seni didalamnya bersifat
profane. Namun ketika seni tersebut sudah masuk kedalam ranah agama sebagai
mesia religi didalamnya maka secara otomatis seni tersebut akan menjadi seni sebuah
seni yang disakralkan. Seni
Patung mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi syarat-syarat sebagaiberikut :1. Utility atau aspek kegunaan Security, 2. Comfortable, 3. Flexybillity, 4. Estetika. Kesemuanya ini
dikemas menjadi dalam suatu hasil karya yang dapat dibanggakan dan mampu
menjadi hasil kreativitas manusia. Nilai
– nilai dasar dalam seni apa pun dapat disimak beberapa nilai yang ada dan
termuat didalamnya seperti nilai penampilan yang melahirkan benda seni
didalamnya, nilai isi yang terdiri atas nilai pengetahuan, nilai pengungkapan
yang dapat menunjukan adanya nilai bakat dari pribadi seniman tersebut.
Perwujudan kesenian senantiasa
terkait dengan penggunaan kaidah dan symbol. Penggunaan symbol dalam seni,
sebagai bahasa, menyiratkan suatu bentuk pemahama bersama diantara warga
masyarakat pendukungnya. Perwujudan seni, sebagai suatu kesatuan karya, dapat
menjadi ekspresi yang bermantra individual, social maupun maupun budaya yang
bermuatan ini sebagai subtansi ekspresi yang merujuk pada berbagai tema.
Cassirer menegaskan bahwa manusia itu tidak pernah melihat, menemukan dan dan
mengenal dunia secara lagsung kecuali melalui berbagai symbol ( Cassirere dalam Nooryan Bahari, 2008: 105
).
Dengan demikian bahwa pencitraan
seni ogoh – ogoh memiliki sebuah fungsi sebagai sebuah symbol yang merupakan
komponen utama dalam kebudayaan individu dalam berbagai bentuk pencitraan
imajenasi manusia. Ketika ogoh – ogoh yang diciptakan oleh manusia telah
memasuki areal religi maka secara otomatis karya ini akam mengalami pergeseran
makna dari sekedar benda seni menjadi sebuah seni yang memiliki nilai
sakralisasi. Didalam symbol, termasuk symbol ekspresif tersimpan berbagai makna
antara lain berupa berbagai gagasan,
abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat dll, terutama dalam kesenian lebih
tepat lagi dapat dihayati bersama.
3.2 Kesimpulan
Ogoh – ogoh sebagai sebuah benda
seni yang tercipta dari hasil kreasi ide – ide masyarakat / seniman yang hingga
sekarang maih kita warisi keberadaanya sebagai sebuah benda seni yang memiliki
dua fungsi yaitu sebagai sebuah hasi karya seni manusia dan juga sebagai sebuah
pelengkap dari acara eagamaan yang dimana dalam hal ini adala ketika
pelaksanaan Tawur Agung sehari sebelum upacra Nyepi. Ogoh – ogoh yang ada merupakan sebuah benda seni yang
memiliki nilai histories jika kita lihat dari lakon cerita yang dibawakan dalam
kreasi ogoh – ogoh yang ada. Dan juga memiliki nilai magis dikarenakan ogoh –
ogoh tersebut merupakan sebuah sarana upakara yang telah melalui psoses
skralisasi sebelum ogoh – ogoh tersebut diarak atau istilahnya ogoh – ogoh yang
ada akan di pasupati / di ulapkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan.
Dari hasil penelitian singkat yang
telah dilakukan dapat dikatakan ogoh – ogoh yang ada dewasa ini merupakan suatu
bentuk pencitraan dari imajenasi masyarakat yang dituangkan dalam ide – ide
kreatif dan juga memiliki bentuk dan karakter yang beraneka ragam. Meskipun
pembuatannya tidak segampang kelihatannya namun ogoh – ogoh sebagai hasil cipta
manusia telah mampu mengajarkan manusia untuk mampu mempertahankan kearifan
local yang ada dan juga mampu sebagai suatu media pendidikan dalam masyarakat
yang bertujuan untuk mengajarkan masyarakat mampu untuk bersosialisasi karena
dalam pengerjaannya ogoh – ogoh akan melibatkan banyak pihak dan banyak ide
didalamnya. Selain itu juga untuk mengajarkan masyarakat khususnya generasi
muda untuk bisa saling menghargai dan melestarikan seni dan budaya yang telah
ada dan berkembang di bali hingga saat ini.
Dalam pembuatannya banyak hal yang
perlu diperhatikan dalam pembuatan ogoh – ogoh ini diantaranya adalah unsure
estetika / seni yang ada. Para creator /
undagi tidak dapat dengan seenaknya menciptakan sebuah ogoh – ogoh tanpa harus
memperhatikan pakem – pakem yang ada dan berlaku dalam masyarakat. Ogoh – ogoh
sebagai sebuah seni patung tidak dapat berdiri sendiri ketika benda seni itu
akan diarak. Akan ada media pendukung lainnya seperti halnya Baleganjur atau instrument gambelan yang
menjadi pengiringnya. Sebagia besar benda seni yang ada di Bali akan melalui
proses sakralisasi sebelum benda seni tersebut dipergunakan, apalagi benda seni
tersebut ada keterkaitannya dengan upacara.
DAFTAR RUJUKAN
Bandem, I
Made. 2006. Seni dalam Ritual Agama, Yogyakarta: Pustaka Yogyakarta.
Dinas
Pariwisata Prov. Bali, 2008. Bali Clean
and Grean “Sekilas Tentang Bali.
Jakob
Sumardjo, 2000. Filsafat Seni, ITB,
Jogjakarta.
Koentjaraningrat.
1974 Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta:
Gramedia.
____________.
2010. Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Dalam Perspektif Kajian
Budaya. Yogyakarta : Kanisius.
Nooryan
Bahari, 2008. Kritik Seni Wacana,
Apresiasi dan Kreasi. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.
mantap blognya gan silahkan mampir ke http://saranahidup.blogspot.com trimakasih
BalasHapus